Perihal Kehilangan
Kehilangan seseorang yang ternyaman itu memang menyakitkan apalagi masih berjumpa dikala waktu tertentu. Memang bukan lah hak ku untuk melarang dia jangan pergi, itu sudah menjadi hak dia akan menetap atau meninggalkan.
Tapi mengapa harus aku? Mengapa harus membuat ku nyaman setelah itu meninggal kan ku begitu saja. Aku bukanlah Taman tempat untuk bermain kapan pun ia mau lalu ketika bosan ia pergi ke tempat lain.
Apa aku yang terlalu bodoh tertipu dengan buain mu sehingga aku terbawa alunan melodi berupa getaran rasa. Bagaimana mungkin aku sangat mudah menjatuhkan hati kepada dia yang tak seharusnya ku memberikan ruang untuk orang asing yang baru ku kenal.
Lalu ku dikecewakan kemudian dipatahkan dengan harapan semu. Kau bohong, kau bilang tidak akan meninggalkan ku tapi nyatanya kau pergi begitu saja tanpa berfikir bagaimana perasaan ku.
Kau sama seperti laki laki yang lain mendekati lalu setelah berhasil memberikan titik nyaman kau pergi jauh tanpa menoleh ke arah ku.
Ku tau, aku bukan lah siapa siapa mu yang tak berhak melarang mu pergi kemana pun kau berpijak tetapi setidaknya kau harus tau batasan sebuah pertemanan itu tidak harus menghilang bukan?
Tak apa kau tidak menganggap ku tapi setidaknya kita masih bisa kan untuk berteman? Masih bisa untuk melambaikan sepi dikala kesunyian bertepi.
Perihal Kehilangan ku telah menjabarkan bahwa setiap orang yang ku temui pasti akan pergi dengan waktu yang tak disangka karena itu sudah menjadi tradisi filosofi dalam pertemuan.
Silahkan pergi, tapi ku mohon jangan pernah kembali untuk hadir lagi dikala kau bosan. Karena aku bukan lah tempat bermain yang menepis sepi dalam keheningan dikala kau jenuh. Terimakasih untuk ruang waktu yang sempat kau sediakan untuk ku meski dengan waktu yang singkat.
Semoga kau menemukan tempat berlabuh untuk menetap berada di sana.


Komentar
Posting Komentar